Minggu, 20 November 2011
"ADI"?
Rabu, 02 November 2011
FLP Semarang trip to Kudus, sebetik perjalanan sebagai mula
Oh ya di Kelurahan Bangetayu sedang hujan.
Singkat saja, aku sudah mengenakan jas hujan kembali. Perseneling sudah kumasukkan ke gigi satu, motor kugas untuk siap melaju. Tetapi.... aku iba akan sesuatu, akh isandi tidak mengenakan apa-apa untuk berlindung dari gempuran hujan ini, kulihat ada jas hujan nganggur dimotorku.
" Nanti basah bagaimana?"
"Ah, sudah biarkan saja."
Bersambung....
Senin, 04 Juli 2011
LASKAR PELANGI, Sebuah Fenomena atau Rekayasa?
Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari Tetralogi Laskar Pelangi. Buku berikutnya adalah sang pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Buku ini tercatat sebagai buku sastra Indonesia terlaris sepanjang sejarah.
Apa hebatnya buku ini?.
kenapa? ini pertanyaan.....
Melihat fenomena larisnya novel Laskar Pelangi yang katanya buku satra Indonesia paling laris ini, saya jadi ingat dengan seorang tokoh psikologi dalam bidang markerting yang masih 'anak angkat" dari Bapak psikoanalisis, Sigmund Freud. PROPAGANDA MEDIA ala EDWARD BERNAYS. Edward Bernays adalah seorang pionir dalam bidang Hubungan Masyarakat (HUMAS) yang lahir pada tahun 1891 dari keluarga Yahudi. Namanya sangat termasyhur dalam bidang manipulasi pikiran manusia lewat jalan media dan menjadi rujukan para manipulator di seluruh dunia.( eramuslim.com)
Buah pemikiran seorang Yahudi bernama Edward Bernays menjadi kitab rujukan utama dalam memasarkan produk, lihai mengemas "tahi kucing" hingga seseorang mau membelinya atas nama tren. Filosofinya memang tidak sepele: "Ketika produk kesesatan ditampilkan terus menerus ia bisa menjadi kebenaran. Ketika opini umum sudah sama, maka disitulah kebenaran dan kebathilan menjadi kabur untuk didefinisikan."
Pada awal tahun 2008, bertepatan dengan launching film Ayat-Ayat Cinta (AAC) pada Maret 2008, disanalah dimulai pemasaran buku Laskar Pelangi. Dengan meminjam kekuatan media, invisible hands sepertinya bermain dalam me-marketing novel ini.
Menurut Dr Minako Sakai, seorang pengajar senior berkebangsaan Jepang di Indonesian Studies, School of Humanities and Social Sciences, The University of New South Wales (UNSW), Australia saat mendampingi Habiburahman el Shirazy dalam bedah novel CINTA SUCI ZAHRANA, ia mengungkapkan bahwa ada transformasi sosial di masyarakat terutama di Indonesia, dulu ketika ia datang ke Indonesia untuk pertama kalinya pada tahun 1980, disaat itu tidak ia temukan para wanita Indonesia berjilbab, sekarang sudah berjilbab. Ketika ditanya apakah ini karena pengaruh sastra Islam yang hadir pada awal pertengahan tahun 90-an? Mina, begitu ia biasa disapa menjawab, "bisa iya bisa tidak, akan tetapi media yang paling berpengaruh."
Hal senada juga diungkapkan oleh Intan Savitri saat Upgrading FLP Wilayah Jawa Tengah di Tegal, 7-8 Mei 2011. Perempuan yang merupakan General Manajer di penerbit Balai Pustaka ini mengatakan, "karena film Ayat-Ayat Cinta, para ibu-ibu sekarang sudah percaya diri ke pesta kondangan dengan memakai jilbab." Mbak Intan juga menambahkan, "oleh karena booming novel Laskar Pelangi, jenre sastra di Indonesia berubah mengikuti tren yang dibawa novel tersebut". jadi beliau menghimbau kepada anggota FLP untuk menuliskan Islam sebagai nilai-nilai Islam yang universal, tidak seperti beberapa tahun yang lalu dimana Sastra Islam selalu memuat nilai-nilai al-qur'an dan Jilbab yang kental.
Dan "meledaknya" novel Laskar Pelangi ini dipasaran hingga wikipedia menuliskan bahwa novel karya Andrea Hirata ini sebagai buku sastra Indonesia yang paling laris sepanjang sejarah. Ini karena disokong oleh media yang "bersahabat", dimana semua media cetak maupun elektronik seperti mempunyai keharusan untuk memberitakan novel ini dan berbagai talk show digelar.
Dari beberapa penjelasan dan fakta diatas, bisa ditarik kesimpulan sementara bahwa ada kekuatan media yang besar dibelakang novel Laskar Pelangi, dan ini yang berandil besar dalam menggulirkan novel ini ke masyarakat. Mungkin karena novel ini memang bagus? ya, memang ada kemungkinan kesana, tetapi saya punya pendapat pribadi. selama saya membaca novel Laskar Pelangi, saya tidak berhasil menemukan dimana bagusnya novel ini. Apa nilai sastra yang menjadi content novel karya Andrea Hirata ini?
Pendapat yang sama diungkapkan oleh teman saya yang kebetulan ia juga pernah diminta membedah buku ini di acara Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Ia sependapat dengan saya, “itu karena marketingnya yang gencar bukan karena novel ini bagus”. Pendapat ini diperkuat oleh pak JONRU saat diundang FLP Semarang pada awal tahun 2010. Mungkin banyak lagi sastrawan yang sependapat dengan ini, tetapi karena memang sudah menjadi opini publik bahwa novel ini bagus, ya jika mereka bertanya tentu mereka akan mengeluarkan "kartu aman".
fakta yang terkait Tetralogi Laskar Pelangi:
ANGKA PENJUALAN DARI NOVEL INI MENCAPAI ANGKA FANTASTIS HANYA SAMPAI NOVEL KEDUA, SANG PEMIMPI. NOVEL KETIGA, EDENSOR MENGALAMI PENURUNAN DAN HANCUR DI NOVEL KEEMPAT, MARYAMAH KARPOV.
Ada beberapa yang harus direnungkan:
1. Jika memang novel ini bagus sudah barang tentu sampai buku keempat ia masih punya "nafas" yang cukup untuk bergeliat seperti dibuku pertama atau bahkan lebih booming lagi dari seri pendahulunya walau tidak didukung oleh dana marketing seperti di novel pertama. Disini kualitas sastra dari Tetralogi Laskar pelangi dipertanyakan?
Berarti inilah yang dimaksud Edward Bernays dengan propaganda medianya.
"Ketika produk kesesatan ditampilkan terus menerus ia bisa menjadi kebenaran. Ketika opini umum sudah sama, maka disitulah kebenaran dan kebathilan menjadi kabur untuk didefinisikan."
2. Apa motif sebenarnya dari boomingnya laskar pelangi.
Apakah motifnya murni hanya faktor ekonomi?
.....
Jika ini faktor ekonomi yang berbicara, mengapa promosi novel kedua sampai terakhir tidak segencar yang pertama? Jika beralasan tidak ada dana, Apakah pihak penerbit menjadi miskin oleh karena booming novel pertama dan kedua? Kemana media cetak dan elektronik yang selama ini men-support LP hilang begitu saja?
Efek yang terasa dalam dunia sastra dan sosial akibat meledaknya novel Laskar pelangi ini adalah berubahnya tren sastra sekarang ini. Laskar Pelangi seperti dijadikan "amunisi" untuk mengalihkan isu, agar sorot mata masyarakat beralih dari sastra Islam yang kental dengan nilai-nilai agung la-qur'an menjadi sastra Islam yang bernilai universal.
Dan ketika tujuan "mereka" telah tercapai, "invisible hand" yang tadinya bermain itu angkat kaki dari Tetralogi Laskar Pelangi sehingga penjualan novel ini jadi jeblok. Jika ini tidak "mereka" lakukan, akan ada tranformasi sosial di Masyarakat Indonesia yang mereka khawatirkan, berarti benar kata Dr Minako Sakai dan Mbak Intan Savitri.
Read More......
Jumat, 29 April 2011
ANIS MATTA QUOTES
Tantangan adalah stimulant yang disediakan oleh Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia.
Naluri Kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam dari kepahlawanan itu sendiri. Hal ini akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, Apa engkau dapat melakukan hal yang sama?
Naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada dibalik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.
Keberanian adalah kekuatan yang tersembunyi dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterima.
Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang dan sebagian lagi biasanya diperoleh melalui latihan.
Nasehat Umar, “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu , karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.”
Roh kebenranian itu dapat mematikan semangat perlawanan musuh.
Kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan.
Keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan, akan tetapi kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita membawa beban idealism kepahlawanan dan sekuat apa kita mampu selamat dalam menghadapi tekanan hidup.
“Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Qayyim berkata, “Sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya.”
Filosofi adalah sebuah ruang kecil dalam kepribadian kita darimana seluruh tindakan diarahkan dan dikontrol.
Filosofi adalah kerangka pikiran yang terbentuk sedemikian rupa dalam diri kita dan benrfungsi member ruang dalam diri kita ruang bagi semua tindakan yang mungkin kita lakukan. Semakin luas kerangka berfikir kita, semakin luas pula wilayah tindakan yang mungkin kita lakukan.
‘Amr bin ‘Ash memaknai keterampilan berpolitik seorang pemimpin: “jika seorang pemimpin tahu bagaimana memasuki suatu urusan, maka ia harus tahu juga bagaimana cara keluar dari urusan itu, sesempit apapun jalan keluar yang tersedia.
Strategilah yang menentukan nilai dari sebuah pekerjaan.
Nasehat Abu Bakar untuk tentara yang akan berperang, “Carilah kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan.”
Kata Sayyid Quthb dalam sebait puisi:
Saudaraku, kalau kau teteskan air matamu
Kau basahi pula nisanku dalam sunyi
Nyalakan lilin-lilin dari tulang belulangku
Jalanlah terus ke kemenangan abadi
Imam Syahid Hasan al Banna berkata: “jangan pernah melawan sunatullah pada alam, sebab ia pasti mengalahkanmmu. Tapi, gunakan sebagiannya untuk menundukkan sebagian yang lain, niscaya kamu akan sampai tujuan.”
Yang harus dilakukan saat musibah itu datang;
1. Mempertahankan ketenangan
2. Mempertahankan harapan
3. Mempertahankan keberanian
4. Mempertahankan semangat
Harapan, seperti kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku.jika bukan karena harapan, tak kan ada orang yang mau menanam pohon dan tidak ada seorang ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari dari kepercayaan akan rahmat Allah dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang Ia kehendaki.
Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu. Tapi pada kelangkaan pahlawan saat krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa. Itulah kata-kata Anis Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia (2004).
Selanjutnya Anis Matta mengatakan bahwa pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.
Keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua resiko yang akan diterimanya. (Anis Matta, 2004).
Nauri kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam kepada kepahlawanan itu sendiri. Hal itu akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, apa engkau dapat melakukan hal yang sama? Dan jika ia merasa memiliki kesiapan-kesiapan dasar, maka ia akan menemukan dorongan yang kuat untuk mengeksplorasi segenap potensinya untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang (Anis Matta, 2004).
Selasa, 26 April 2011
IMAJINASI; Pedang Bermata Dua
“Imagination is the preview of life’s coming attractions. – Imajinasi adalah gambaran kehidupan yang akan datang.” Albert Einstein.
Benar, tidak mengada-ada jika peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kemajuan sastra, bukan sains. Ilmuwan besar sekaliber Albert Einstein pun mengakuinya, bahwa dunia "khayalan" itu yang menginspirasi penemuan-penemuan besar para Ilmuwan. Jika saja Wright Brother tidak terinspirasi oleh kisah-kisah mitos manusia bisa terbang, tidak akan ada pesawat terbang sekarang ini. Adakah inspirasi itu datang tidak dari imajinasi?
<span class="fullpost">Sastra adalah pondasi peradaban, pembangunan karakter bangsa adalah peran sastra. Indeks pembangunan manusia selalu berpatokan kepada budaya membaca. Ini yang kurang disadari oleh Indonesia.
Bangsa ini bangga bila ada warga negaranya pulang dari menuntut ilmu di luar negeri dengan membawa gelar Doktor sains, ia diagung-agungkan seolah harapan untuk kemajuan Indonesia ada dipundaknya. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya, sang Doktor hanya jadi Ilmuwan yang "miskin" karya, karena dinegara ini tidak ada IMAJINASI yang bisa mengolah ilmu pengetahuan sang Doktor. Mungkin para Ilmuwan di Indonesia bingung harus berbuat apa, tidak ada yang menginspirasinya, tidak ada pulai orang-orang yang berbicara tentang masa depan, imajinasi kehidupan Indonesia kedepannya tidak ada punya gambaran jelas.
Jadilah Sang Doktor tadi ketika diminta oleh Bangsa lain yang bisa berimajinasi tinggi untuk menyelesaikan proyek masa depan mereka dengan sains para Ilmuwan. Mega proyek ini bernama; "mewujudkan teknologi karya sastra yang belum ada, demi masa depan yang cerah."
Imajinasi selain membangun peradaban, imajinasi juga bisa tonggak merusak moral. Menghancurkan sendi-sendi adat istiadat dan etika di masyarakat. Imajinasi kotor yang merangsek melalui pemikiran pemikiran negatif yang akan mengendap dialam bawah sadar manusia
.
"sesungguhnya, sebagian dari prasangka itu adalah dosa". (QS:49:12)
Allah melarang umatnya untuk su'udzon, karena berprasangka negatif akan menghasilkan imajinasi yang negatif. Otak manusia berpikir 60.000 kali setiap hari dan 2.000.000 informasi perdetik yang bisa ditangkap. Imajinasi negatif pasti akan ada, dan itu tidak bisa kita hindari tetapi jagalah agar Imajinasi-imajinasi negatif itu tidak berubah menjadi fantasi-fantasi kotor yang bisa merusak, baik diri, keluarga maupun lingkungan.
Ketika dulu heboh masalah majalah "Play Boy Indonesia", ada seorang ulama yang mengatakan; "Menghancurkan Indonesia tidak dengan cara menghina Nabinya, karena orang yang tidak sholat pun pasti akan marah, tetapi mereka menghancurkan dengan cara memasarkan pornografi di negara muslim terbesar ini."
Pornografi, pornoaksi dan segala bentuk ragam cabul apapun kemasannya akan merusak pemikiran generasi muda dengan selalu menghadirkan imajinasi kotor di otaknya. Jika Imajinasi itu berlanjut menjadi fantasi, maka "karya"nya adalah free seks, pemerkosaan, hubungan diluar nikah dan lain-lain.
ini adalah efek lain dari Imajinasi yang tidak terkontrol, menjadikan manusia selalu dikontrol oleh fantasi-fantasi dalam setiap gerak tubuhnya. Sekarang bisa dilihat, manakah yang dominan di generasi muda ini, sastra atau pornografi?
Pemerintah telah melarang pornografi, karena orang-orang yang pro dengan pelarangan ini adalah mereka yang dapat membayangkan nasib bangsa ini kedepan bila imajinasi negatif terus dicekoki dibenak kawula mudanya.
Sesungguhnya sastra telah memberikan jalan untuk berimajinasi yang positif dan produktif, dengan sastra para kaum muda lebih mudah untuk diajak berpikir tentang masa depannya karena masing-masing sudah ada gambaran bagaimana kehidupan yang akan datang. Ketahuilah, hubungan sebab dan akibat itu erat berkaitan dengan sastra dalam merangkai sebuah cerita.
Cintailah SASTRA, agar dua mata pedang itu bisa kita tebaskan kearah "musuh".
Nasihat Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra.
"Ajarkan anakmu sastra, maka ia akan merubah anak yang pengecut menjadi pemberani".
wallahu'alam bish shawab. </span>
Read More......Senin, 25 April 2011
NEGARA INI BUTUH PERANG, AGAR HILANG ITU KEKERASAN
SEJAK dua setengah milenium yang lalu ahli strategi perang ini selalu mengingatkan, untuk selalu mengenal diri, mengenal musuh dan mengenal langit dan bumi. Pemikiran ini ternyata bukan saja relevan dalam dunia militer saja, tetapi juga ekonomi, politik, sosial dan lain sebagainya. intinya adalah PERANG tidak bisa dijauhkan dari kodrat manusia yang memiliki naluri untuk selalu dapat "bertahan hidup".
Rabu, 20 April 2011
IMAJINASI DALAM KEHIDUPAN DIRI
Semua berawal dari imajinasi.
Inilah Indonesia, seratus tahun yang lalu tidak ada yang MENYADARI akan potensinya?
Memang, seratus tahun yang lalu orang-orang berpendidikan sangat jarang di negeri ini. Kegiatan baca-tulis sesuatu hal yang langka ditengah kebodohan bangsa yang selama 350 tahun dijajah. Jika sampai sekarang ini, 2011 artinya 66 tahun Indonesia merdeka, belum ada yang bisa menyadari potensi Indonesia hari ini dan masa yang akan datang, belum ada yang dapat membayangkan Indonesia kedepan seperti apa dan tidak seorangpun yang bisa merencanakan untuk hari esok. Inilah tanda dari matinya IMAJINASI.
Matinya imajinasi menjadi jalan suram nasib bangsa kedepan. Benar, itulah yang banyak dikhawatirkan oleh para budayawan Indonesia. peralihan budaya baca-tulis menjadi budaya audio-visual kian menggerus minat baca para kalangan. Budaya belanja buku digantikan oleh shopping di mall, budaya peran aktif dalam bedah buku makin tak terlihat minat para pemuda karena lebih senang datang ke konser-konser musik. Ini masalah, namun sedikit orang yang menyadari karena matinya imajinasi.
Sejarah selalu berubah, demikian pula budaya akan bergeser. Ketika dahulu bangsa ini diperjuangkan oleh tetesan darah para pahlawan, jika Indonesia merdeka yang ada dibenak mereka dapat membayangkan nasib Indonesia yang lebih baik tanpa penjajahan. MERDEKA!
Film, inilah salah satu yang ikut menggerus imajinasi. Bayangkan, tidak akan kita temui perintah untuk berimajinasi saat disuguhkan sebuah film, semua praktis ada didepan mata tinggal dinikmati, instan sekali bukan? tanpa susah payah memeras otak, memusingkan kepala hanya sekedar memvisualisasikan sebuah objek dalam benak, semua sudah tersaji indah. namun tak seindah yang dibayangkan. Imajinasi lebih indah daripada gambar visual nyata seindah apapun, karena ia bebas melanglang buana tanpa batas. Inilah kekuatan Imajinasi, apa banyak orang sadar akan potensinya?
Berbagai perangkat budaya audio visual semua mengekang imajinasi, kemampuan daya pikir otak ini berkurang. Buatlah sebuah perbandingan, jika kita menonton film selama 2 jam selesai, namun apa yang terjadi jika waktu dua jam itu digunakan untuk membaca sebuah novel, rata-rata kemamuan baca seseorang dalam 2 jam hanya dapat meraup 120 halaman. 120 halaman itu mungkin hanya sepertiga dari keseluruhan cerita, belum selesai. KENAPA? inilah imajinasi. Beda antara penonton dan pembaca adalah para penonton hanya menggunakan indera penglihatan dan pendengaran saja dan juga tidak berimajinasi sama sekali, sedangkan para pembaca ia menggunakan seluruh pancaindera untuk menangkap deskripsi yang ia baca, dari deskripsi tertulis itulah muncul IMAJINASI.
Saat masih bocah ingusan, saya ingat kerika itu yang saya gemari adalah membaca cerita bergambar. Pokoknya kalau ada gambarnya saya senang. Mengapa? ini karena saat usia-usia seperti itu daya imajinasi kita masih lemah, belum terasah maka harus dirangsang dengan ilustrasi-ilustrasi cerita bergambar. Sekarang pertanyaannya, apa yang membedakan antara daya pikir seorang bocah dan daya pikir orang dewasa? jawabnya adalah IMAJINASI.
Suatu saat nanti akan kita temui budaya turunan dari budaya audio-visual ini, yaitu budaya PRAGMATISME. Budaya ini mengajarkan kita pada kepraktisan, semua dinilai harus praktis, tidak ada ruang untuk berpikir dan berimajinasi kedepannya seperti apa. Ya, tanda-tanda itu telah nyata, sudah banyak contohnya namun belum bisa bangsa ini disebut bangsa yang pragmatisme. Masih ada waktu, dan kapal ini belum karam. Sebelum badai datang mari, kita berupaya untuk membelokkan arah angin. Read More......





