Rabu, 23 November 2011

SARJANA JADI PETANI SAJA

Indonesia berpotensi menjadi lumbung pangan dunia, dengan lahan pertanian yang subur membentang dari sabang sampai merauke, matahari yang bersinar sepanjang tahun dan garis pantai terpanjang kedua didunia serta potensi laut yang kaya. Ketersediaan sumber daya alam yang memadai bukanlah secara otomatis ketahanan pangan nasional akan terpenuhi, tetapi harus ada phak-pihak yang berperan dalam mengelola potensi tersebut.
Birokrasi yang melahirkan regulasi dan stakeholder yang menyediakan fasilitas dan infrastruktur belumlah cukup, harus ada orang-orang terpelajar yang terjun langsung di lapangan. Suatu kebijakan, sebaik apapun kebijakan yang dikeluarkan untuk mendukung program pangan nasional akan mental di grass root, seperti contoh: keberhasilan program swasembada pangan beras 2009, produksi beras nasional melampaui kebutuhan pokok nasional, sehingga keran ekspor terbuka lebar. Apakah para petani kita ikut menikmati atas keberhasilan program tersebut? Tidak, taraf hidup mereka tidak jauh berubah.
Petani kita butuh seorang pendamping sekaligus mentor yang membimbing mereka, baik dalam proses produksi maupun nanti setelah pengolahan pascapanen. Para petani di Indonesia bukanlah orang miskin, mereka hanyalah orang-orang yang mayoritas tidak bisa mengelola kekayaannya. Bisa dikatakan para petani kita lemah dalam manajemen, sehingga pengelolaan hasil panen tidak maksimal. Sering pula mereka ditipu oleh tengkulak karena ketidaktahuan mereka dalam dunia marketing dan pemasaaran. Para “mafia” itu pintar memainkan harga pasar sehingga mencekik petani saat panen tiba.
Hal yang membuat para sarjana “malas” untuk terjun ke sawah dan babat alas untuk membuka lahan adalah ketika berhadapan dengan stigma masyarakat. “Sekolah tinggi-tinggi, kok ya jadi petani to nak?” Inilah problem sekaligus dilemma bagi para sarjana, sepertinya pekerjaan petani hanya teruntuk bagi orang-orang yang tidak sekolah atau bersekolah rendah, para sarjana haruslah jadi orang gajian saja (baca: pegawai).
Ingin rasa saya berteriak untuk menantang stigma negatif masyarakat itu, “Indonesia ini gak maju-maju karena petaninya gak sekolah, mau aja ditipu orang lain.” Atau, “Bapak harusnya sekolah dulu baru jadi petani, supaya jadi kaya raya seperti Mister petani di Amerika.”

Petani sejahtera, Indonesia Jaya!
Semboyan itu menjadi motto dari kementerian Pertanian RI, Prabowo Subiyanti dan Bob Sadino juga mengemukakan hal itu. Indonesia dikenal dari masa ke masa sebagai Negara agararis, dimana pertanian menjadi tulang punggung utama dan maritime sebagai pelengkap. Ada tiga pekerjaan orang-orang melayu yang begitu disegani bangsa asing; petani, nelayan dan perompak (Marsden, William 1783 M).
Sayang, potensi ini tidak menjadi menu utama untuk santapan mencari nafkah dewasa ini. Indonesia seperti dipaksakan menjadi Negara industri dan menjadi seorang enterpreneurs begitu seksi dikalangan mahasiswa. Kebijakan pemerintah dan program kampus cenderung menjadikan semangat wirausaha sebagai solusi untuk mengatasi ketimpangan antara jumlah angkatan kerja dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Bukannya pesimis Indonesia bisa menjadi Negara Industri, tetapi Negara ini belum siap, pondasinya masih sangat rapuh.
Jika saja bangsa Indonesia mengalami revolusi layaknya Revolusi Industri di Inggris pada abad ke XVIII, saya yakin Indonesia pasti Indonesia akan selalu bergantung pada Negara lain. Kedelai, jagung dan daging kita masih impor, lalu darimana kita mendapatkan bahan baku untuk Industri?
Hal yang sangat kontradiktif adalah para pengusaha Indonesia, baik melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin) maupun asosiasi lain selalu mengajak para kawula muda untuk berwirausaha, jadilah pengusaha (non-agraris) setelah lulus nanti. Seminar-seminar tentang kewirausahaan begitu marak di perguruan tinggi bak cendawan dimusim penghujan. Para pengusaha-pengusaha itu sampai rela menyempatkan waktunya untuk road show ke kampus-kampus. Sebagai seorang agent of change, mahasiswa adalah orang-orang terpelajar yang katanya kritis itu kenapa tidak timbul pertanyaan dibenaknya. Kenapa?
Sepuluh besar orang terkaya di Indonesia adalah orang-orang yang bergerak dibidang pertanian tetapi Industri mereka ada. Seperti perusahaan Rokok, mereka berkecimpung dalam pertanian tembakau dalam skala besar. Sinarmas Group ternyata juga memiliki perkebunan berhektar-hektar. Pengusaha “Sugar Group Company”, bergerak dalam pertanian tebu. Bakrie Group juga bergerak di bidang pertanian.
Apa artinya ini?
Para pengusaha itu menjadi kaya memang karena industri, tetapi yang menjadi periuk nasi mereka adalah produksi pertanian domestik. Sebagai contoh, rokok menjadi industri sejak melimpahnya stok tembakau karena program culture stelsel (tanam paksa) dari pemerintah Belanda. Tembakau mentah bejibun diekspor penjajah ke Negara lain. Karena banjirnya bahan baku didalam negeri, inilah start awal kemudian timbul inisiatif dari para boemipoetra untuk menangkap peluang dengan membuka industri rokok domestic, kemudian lahirlah perusahaan-perusahaan rokok seperti Djarum, Gudang Garam, Sukun, Sampoerna dan lain-lain.
Jadi manakah yang harus didahulukan, pertanian atau industri?

Revolusi Industri di Inggris
Belajar dari revolusi Industri di Inggris, paradigma yang muncul dibenak kita adalah revolusi pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi setelah ditemukan mesin uap oleh James Watt. Dari keberhasilan inggris membuat terobosan, mengganti tenaga manusia menjadi tenaga mesin sehingga produksi industry meningkat tajam.
Adakah dari kita yang berpikir bahwa “mesin uap”lah penyebab dari kebangkitan Industri? Mungkin sebagian besar dari kita menjawa, “ya”.
Saya katakan mesin uap hanya akibat bukan sebab, disebabkan dari membanjirnya stok bahan mentah pertanian. Kita tahu pada masa itu Kerajaan Protestan Anglikan Inggris mempunyai tanah jajahan terluas pada jaman kolonialisme. Semua tanah jajahan dijadikan basis pertanian, mereka selaku pemegang otoritas tertinggi mengendalikan kran eksport-import. Hingga pada suatu masa, dimana kebutuhan manusia kian meningkat dan bahan mentah itu dituntut untuk diolah menjadi barang jadi agar bernilai tinggi, menguntungkan dan bisa tahan lama, tidak cepat rusak.
Saat itulah ilmuwan-ilmuwan Inggris dipaksa untuk menjadi solusi dari masalah ini, hingga pada akhirnya James Watt muncul sebagai “pahlawan” untuk menjawab problema tersebut. Mesin uap menjadi awal perubahan sosial masyarakat dunia, seiring dengan perkembangan teknologi mesin produksi, insutri menjadi merajai dunia.
Belajar dari sejarah inilah, sudah seharusnya para ilmuwan-ilmuwan Indonesia fokus pada tekonologi tepat guna. Jarang ada ilmuwan yang menciptakan alat pertanian modern seperti di Negara-Negara maju. Kita tunggu saja, apakah ada “James Watt” baru muncul di Indonesia? sehingga nanti ada revolusi pertanian di Indonesia, semoga saja.
Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia melalui LIPI memiliki program bio-teknologi untuk pertanian. Penelitian rekayasa genetik itu telah menghasilkan varietas baru, yang lebih unggul dari varietas sebelumnya. Akan tetapi produk itu masih tekendala birokrasi, butuh sosialisasi intensif ke para petani agar mau memakai produk dari LIPI. Seandainya saja para petani kita didominasi oleh orang-orang terpelajar, mungkin sosialisasi itu tidak akan memakan waktu lama.

Indonesia menjadi Negara Industri
Indonsia sangat berpotensi untuk menjadi Negara industri, pertumbuhan ekonomi tinggi, angkatan kerja yang besar serta pangsa pasar yang luas dengan dua ratus empat puluh juta jiwa lebih penduduk. Tetapi menjadi Negara industri itu menjadi sangat “dipaksakan” apabila tidak diimbangi dengan semangat agraria dan bahari yang menjadi daya tarik Indonesia pada masa lampau.
Dari sini, saya mengajak para calon-calon sarjana maupun para lulusan perguruan tinggi nantinya akan menaruh perhatian pada dunia agararia, malah akan lebih baik jika bisa terjun langsung didalamnya. Supaya perimbangan opini antara semangat enterpreneuship (baca: Industri) dikalangan mahasiswa dengan ketersediaan ketersediaan bahan baku (baca: pertanian).

3 komentar:

  1. betul itu...seharusnya seorang sarjana juga harus mau terjun ke lapangan. Jangan cuma kerja dibalik meja saja alias pegawai

    BalasHapus
  2. tapi kalo aku disuruh terjun menjadi petani, aku sendiri akan bilang tidak. karena aku bisa memilih bidang yang memang sesuai dengan kemampuanku. kalaupun harus ke tani, mungkin aku bisa jadi manajernya saja :D

    BalasHapus
  3. santai nona-nona... penulisnya juga gak bakal sanggup bila harus mencangkul disawah atau menggarap lahan. Tulisan ini mengajak para sarjana memberiaka perhatian lebih terhadap dunia agraria, baik agribisnis, agronomi, agroteknologi, agro wisata dan bioteknologi yang menjadi pilar utama bangsa Indonesia menghadapi kemungkinan krisis pangan 2020, diperkirakan siklus badai El-nino akan kembali menyambangi Nusantara.

    Jika kita kembalikan istilah "petani" menurut PBB adalah perseorangan yang memiliki lahan min 2 ha. dibawah 2 ha, bisa dikatakan "buruh tani" karena dengan lahan cuma segitu dia tidak sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya.

    BalasHapus